Indonesia
merupakan negara yang luas dan kaya dengan segenap kekayaan yang dimilikinya,
kurang lebih ada 260 juta orang yang menajda warga negaranya. Indonesia
memiliki alam yang subur, banyak pegunungan dan dikelilingi oleh lautan. Kondisi
alam Indonesia disatu sisi subur dan memiliki potensi untuk mencapai
kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
Kondisi
alam Indonesia yang terdiri dari dua musim serta dikelilingi lautan dan banyak
pegunungan memiliki banyak pegunungan berpotensi tinggi akan terjadinya bencana
alam seperti tsunami, gunung meletus, banjir, longsor dan bencana alam lainnya.
dimana dengan bencana yang terjadi tersebut, tidak sedikit warga yang harus
rela kehilangan keluarga sampai harta benda yang dimilikinya.
Selain
potensi bencana alam yang selalu ada, angka kemiskinan Indonesia juga tergolong
cukup tinggi, berdasarkan data dari BPS pada maret 2019 angka kemiskinan
Indonesia mencapai 25,14 juta orang. Hal ini jelas berbanding terbalik dengan
segala kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dari sabang sampai meuroke. Entah
siapa yang salah, yang jelas kemiskinan merupakan beban kita bersama sebagai
warga negara.
Bencana
alam dan kemiskinan tidak selamanya menajdi beban bagi para korban bencana
ataupun orang miskin tersebut dan bukan juga beban pemerintahan, meskipun
seharusnya pemerintahan harus bisa mengatasinya dengan mengeluarkan berbagai
kebijakan yang bisa mengurangi angka korban bencana alam dan kemiskinan
tersebut.
Penanganan
benca alam dan kemiskinan merupakan beban bersama dan harus menajdi tanggung
jawab bersama. Dalam mewujudkan hal itu, munculah lembaga-lembaga sosial
ataupun yayasan yang berpogram pemberdayaan yatim dan dhuafa, dimana salah satu
goals terbesarnya adalah terwujudnya masyarakat sejahtera, mandiri serta terampil.
Dimana
dengan kemandirian dan keterampilan yang dimiliki oleh warga tersebut dapat
mengurangi angka kemiskinan dari masa ke masa, selain itu harapan lainnya
adalah warga yang telah dibina dan memiliki keterampilan serta kemandirian
tersebut kedepannya dapat menjadi penolong orang lain yang membutuhkan juga
dengan segenap kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.
Dalam
penuntasan kemiskinan di negeri ini lembaga-lembaga sosial telah membangun
banyak program yang bisa membentuk kemandirian dan meningkatkan keterampilan
dalam masyarakat. Misalnya dengan mengadakan program peternakan bersama, dimana
dalam program tersebut warga diberikan kepercayaan untuk mengurusi hewan ternak
dengan upah yang cukup dan jika kemudian hari hewan ternak itu berkembang biak,
maka warga tersebut mendapat sebagian dari hasil perkembang biakan tersebut.
Selain
dalam peternakan dalam pertanian juga demikian, warga diberikan kesempatan
untuk meningkatkan keterampilannya dan jika mendapatkan hasil ia akan
mendapatkan bagian. Sehingga dengan demikian diharapkan keterampilan warga
dapat meningkat dan kedepannya bisa mandiri dengan keterampilan serta modal
yang dimilikinya tersebut.
Selain
dalam sektor diatas, lembaga-lembaga sosial juga memiliki peran yang cukup
besar dalam penuntasan kemiskinan lewat jalur pendidikan. Dalam hal ini,
lembaga-lembaga tersebut mengadakan program beasiswa pendidikan yang dikhususkan
kepada anak yatim dan dhuafa. dengan demikian bagi anak yatim dan dhuafa tidak
ada lagi alasan untuk tidak mengikuti jenjang pendidikan dikarenakan faktor
ekonomi yang ada.
Berdampingan
dengan program beasiswa yang diberikan kepada orang yang kurang mampu, program
pendukung lainnya adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan keterampilan
seperti, pelatihan public speaking (berbicara), keterampilan Bahasa asing (arab
dan inggris), pelatihan IT, dan pelatihan minat bakat lainnya, sehingga yang
didapatkan oleh para penerima beasiswa tersebut tidak hanya biaya pendidikan,
melainkan skill-skill yang dapat menunjang kehidupannya dimasa yang akan
datanng.